Nanti

Sabtu, Februari 21, 2015

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini bukan kisah para pengabdi

Bukan sebuah prosa berujung damai

Bukan lantunan syair tertanam dalam lubuk hati

Bukan karangan tak terlukis oleh sang tokoh yang hakiki

Bukan akte dari anak baru mengisi rentetan takdir di bumi

Bukan buku dengan kandung yang dimaknai

Bukan catatan layaknya tertulis pena sang ilahi

Bukan sebuah lembar teks proklamasi

Yang setiap kali di kobarkan tak pernah padamkan api sanubari

Apakah ini sebuah ukiran janji terpahat di batu prasasti?

Ataukah lukis cat air yang tersapu tangis anak ibu pertiwi

Yang entah sampai detik ini teramat susah untuk dimaknai

Mulai dari awal resmi negeri ini berdiri

Dan dipimpin oleh kepala negeri beristri fatmawati

Tak kunjung raga ini bisa yakin untuk memberi abdi

Salahkah mereka yang mendengkur diujung rapat tentang kami?

Salahkah mereka bersaksi untuk terus membangun negeri

Yang hingga tarikan nafas saat ini hanya Nanti

Nanti dan nanti 

Dan berujung sumpah jabatan kembali

 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.