Mimpi tak bertitik

Rabu, Maret 25, 2015

















Hampir sudah masa yang sebentar ini tertelan waktu
Ini bukan hanya sepenggal bait puisi ataupun segaris kata - kata mutiara
Melainkan sebuah akhir dari rentetan kewajiban berseragam dari dasar hingga menengah
Ya, ini akhir kisah kontemporer anak muda tanpa bertitahkan gelar anak dari seorang raja
Diam dan tak mengerti kata hingga berucap layaknya seorang advokat memerangi fakta yang ada
Tertunduk karena bisunya makna hingga terangkai sebuah lantunan kata bersejarah
Pasif dari sebuah tindak hingga poros jiwa tak lagi bisa hentikan raga ini berada
Banyak raga yang ingin berada di posisi kita saat ini
Beribu hingga Jutaan tunas tak beruntung ingin persembahkan mimpi - mimpi
Bukan hanya mimpi kosong tanpa alur cerita
Mimpi berjuta koma di hiasi damba
Terlahirkan dari sebuah ketidakberuntungan
Terhempaskan dari kerasnya tuntutan zaman
Tak terpijak mana tanah dan mana langit yang harus di sanjung
Banyak Pertanyaan dan pernyataan terlontar dari mereka
Dari caci hingga berujung dengki
Pertanyaan nasib hidup keturunan mereka
Pernyataan nasib hidup tak ada seklumit asa dari sang bertitah
Apakah harus sang bertitah turun hingga menyokong mereka?
Tidak,
Karena sebuah mimpi akan tercipta dari orang - orang bergelar penerus tahta
Penerus tahta generasi dari tanah yang tercipta dari keterdesakkan lawannya
Berujung kibar bendera yang haus akan mimpi merdeka
Karena setiap tunas - tunas terlahirkan tak mau sengsara
Dan kami pun yakin
Bahwa saudara - saudara kami dimana pun berada
Mereka setara dengan kami pada awalnya
Hanya ketidakberuntungan berpihak pada mereka
Andai sebuah sesal di beri kesempatan kedua
Mereka akan bersua bersama kami mengakhiri kejamnya derita negeri
Dan tak mau kembali jadi arti yang tak dimaknai
Hingga tak mudah jatuh tapi tetap berdiri tegak hingga raga tak bisa bangun kembali




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.