Cermin Drama
Babak belur sudah badannya. Rontok diterpa angin letih tak berkesudahan.
Raganya kini tergolek lupa mana tulang dan mana dagingnya. Terpisah secara tak langsung. Ingin sekali waktu-waktu seperti ini diganti onderdil dari tubuhnya. Dipreteli satu per satu, di buka dengan obeng bunga yang biasa dipakai ayahnya membuka skrup TV rumahnya. Namun, apa daya dirinya saat ini. Hanya kedip mata yang bisa bergerak. Selain hati yang saat ini berteriak. "Ooo... tidak adil beban ini ku panggul sendiri, dasar manusia berkaki tiga. kaki lainnya dipakai untuk memangku tangan yang bersantai ria." Liriknya didepan cermin pementasan drama.

Tidak ada komentar: